Sunday, April 14, 2019

Meski Tak Layak

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya : Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. ~Lukas 15 : 29-30
 
picture from here


Cerita tentang anak bungsu yang meminta bagian warisan (padahal ayahnya masih hidup), kemudian pergi, menghabiskan seluruh hartanya, dan kembali pada bapanya adalah salah satu kisah Alkitab yang saya sudah sering dengar sejak saya kecil. Pada masa saya kecil, Nikita, seorang penyanyi cilik rohani juga menyanyikan kisah si anak bungsu ini.

Kisah ini juga banyak diangkat sebagai tema pertobatan, khususnya pada masa-masa Pra Paska seperti sekarang ini. Saya mendengar lagi kisah ini seminggu yang lalu, saat beribadah di Gereja. Dulu, kisah ini selalu saya maknai dengan keberdosaan saya – sama seperti si bungsu, saya sering merasa seperti sedang tidak menyukakan hati bapa (BAPA). Tapi minggu yang lalu, saya tandai Alkitab saya persis di ayat yang saya kutip di atas.

Si sulung ini menggambarkan kepribadian banyak sekali orang (well, kadang saya pun begitu). Tidak percaya? Coba buka instagram para artis atau sosok-sosok terkenal yang terkenal karena sensasinya. Berapa banyak orang yang mencacinya karena hal yang mereka lakukan. Berapa banyak orang yang merasa dirinya JAUH LEBIH BAIK dari orang yang mereka katai tersebut?

Baru seminggu yang lalu saya membaca lagi kisah ini, lalu pada minggu itu juga berita tentang Audrey merebak. Seorang siswi SMP yang “katanya” di siksa kakal kelasnya. Waktu membaca berita-beritanya (juga komen-komen pada berita itu), saya menaruh prihatin pada para pelaku. Kenapa pelaku? Karena jelas bahwa penyidikan saja belum selesai tapi mereka sudah dihakimi sedemikian hingga. Ada yang membuat meme, ada yang me”hack” account salah satu pelaku lalu membeberkan isi direct messagenya, ada juga yang mengata-ngatai para pelaku dengan kata-kata yang semestinya tidak layak dilontarkan.

Lalu, apakah saya prihatin dengan Audrey waktu itu? Tentu saja saya prihatin. Membaca beritanya saja waktu itu membuat saya menitikkan air mata, memeluk anak perempuan saya, dan berdoa semoga hal seperti itu tidak terjadi pada anak-anak perempuan lain. Juga, saya mewanti-wanti sesama guru rekan kerja saya sehari setelah berita itu up untuk waspada pada bullying dan bagaimana semestinya bersikap jika ada bullying di antara siswa.

Kemudian hasil visum Audrey keluar, semua orang menjadi balik mencaci maki Audrey dengan menyesali tanda tangan petisi yang sudah dibuat sebelumnya. Tanpa dicaci pun, Audrey dan terduga pelaku penyiksaan sudah mengalami hari-hari berat. Tidakkah kita sadar, bahwa terkadang ucapan dan perilaku kita terkadang sudah MENYULITKAN orang di sekitar kita?

Saya sedang berefleksi, saya harap teman-temanpun demikian.
Berapa dari kita yang merasa selalu benar? Merasa tidak pernah salah? Merasa paling berkuasa melakukan segalanya?

Dalam cerita si bungsu, yang semestinya melakukan pertobatan bukan hanya di bungsu, namun juga si sulung yang juga “hilang”, sama seperti kita yang seringkali merasa paling benar.

Terlintas sekali lagi ucapan pak pendeta waktu itu, 
“KASIHILAH SEMUA ORANG yang dikasihi ALLAH, WALAU menurut versi kita orang tersebut TIDAK LAYAK UNTUK DIKASIHI.”

Selamat menyambut Paska.

God bless you,
Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 30, 2013

Kisah Seekor Anjing Yang Tamak, Sebuah Perenungan

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."  *Doa Bapa Kami - Matius 6 : 11*

Ini adalah kisah tentang seekor anjing yang tamak.

Pada suatu hari, ada seekor anjing yang sedang berjalan menyusuri sebuah kecil, sendiri, lapar. Dia menemukan sebuah toko roti dan mengintip ke dalamnya, berharap dirinya dapat mencuri sepotong roti untuk mengisi perut kosongnya.
Girang langkah si anjing tak bertuan itu ketika di dapatnya sepotong besar roti. Dia membawanya dengan mulutnya, lari keluar dari toko roti berharap tak ada yang melihatnya.
Saat hendak melintasi sungai, dia melihat bayangan anjing lain dan dengan refleks dia melongok ke permukaan sungai. Di sana, dia mendapati bahwa ada seekor anjing lain yang juga sedang membawa sepotong roti pada mulutnya. Sifat serakahnya muncul, dia berpikir, dengan sedikit geraman dan gonggongan, mungkin si anjing di dalam sungai itu akan memberikan rotinya. Alih - alih mendapat roti, roti yang ada di dalam mulutnya justru terjatuh masuk ke dalam sungai ketika ia membuka mulut hendak menggonggong.
...


Cerita sederhana yang pernah saya baca di sebuah buku bacaan anak-anak. Apa yang dapat kita petik dari cerita itu?

1. Jangan mencuri (Keluaran 20 : 15)
Jelas, Tuhan melarang kita untuk mencuri. Apapun hasil yang kita peroleh dari mencuri, sudah pasti tidak akan bertahan lama. Mencuri dalam konteks dunia saat ini dapat pula berarti "jangan korupsi", korupsi waktu, korupsi uang, dan sebagainya.

2. Bersyukur dan Jangan Tamak
Ini point paling penting yang ingin saya sampaikan pada tulisan saya kali ini. Terkadang orang begitu silau akan harta sehingga baginya, makan cukup dan kebutuhan terpenuhi tetap saja masih terasa kurang. Si anjing pada ilustrasi di atas tadi melambangkan orang-orang serakah yang tak pernah puas pada apa yang ia miliki.
Ada tertulis :
Dan prajurit - prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
Jelas sudah bahwa Alkitab pun mengajak kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang kita punya, banyak maupun sedikit.

Lalu bagaimana jika apa yang kita punya masih sedikit, tidak bolehkah kita meminta lebih?
Dulu, pertanyaan ini juga sempat mampir di pikiran saya dan saya yakin, andapun pernah terpikir seperti itu. Tapi sudah hampir dua tahun saya dapat hidup bahagia walau apa yang saya punya masih sedikit, tanpa harus meminta lebih, tanpa harus menjadi tamak, tanpa harus mencuri, yaitu BERSYUKUR.

Syukuri hal kecil dalam hidupmu, dapat bangun di pagi hari, dapat melihat orang-orang yang kita cintai, tubuh normal tanpa cacat cela, pekerjaan (ingat ada banyak pengangguran di luar sana yang tidak seberuntung anda dan saya), dan hal-hal kecil lain yang membuat anda dapat tersenyum dan berkata :
"Tuhan, maafkan aku yang tidak bersyukur ini"

Dengan ucapan syukur yang keluar dari mulut anda, percayalah segalanya akan terasa cukup, karena anda menikmatinya, bersyukur, dan berbahagia.

picture from here


Jadi, apalagi alasan kita untuk tamak dan tidak bersyukur jika Tuhan sudah begitu banyak memberi kepada kita?
Image and video hosting by TinyPic

Friday, April 26, 2013

The Listener


"And whatever things you ask in prayer, believing, you will receive."
Matthew 21 : 22

Dalam bahasa Indonesia, 'verse' di atas berarti
"Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

Sepertinya mudah bukan?
Kita hanya diminta untuk memohon dalam doa.
Maka, berdoalah,
tentang jawaban doa? Percaya saja, baik buruknya itu adalah yang tepat untukmu. (klik di sini)

Life is getting harder, but HE promises to stay with....
Menangislah dalam doamu,
Berserulah kepadaNYA,
Tuhan TIDAK tidur, DIA mendengar doamu
 Image and video hosting by TinyPic

Friday, March 29, 2013

Pasrah Diri



Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Matius 26 : 42


When I Survey The Wandrous Cross
Adakah persoalan yang saudara anggap terlalu sulit untuk dihadapi? Sehingga rasanya ingin lari dari dunia ini, menghindarinya jika perlu.
Seperti Petrus yang menyangkal Yesus, mungkin kita pun demikian, menyangkali permasalahan yang ada, lari, parahnya terkadang hal-hal yang menjadi pelarian bukanlah yang Allah kehendaki seperti apa yang sudah dilakukan Yudas Iskariot.

Sedikit refleksi di Hari Jumat Agung ini, saya mengajak saudara semua memposisikan permasalahan anda sebagai “cawan” yang sama seperti yang harus Yesus “minum”.
Misal, untuk anda yang masih bersekolah, mungkin cawan anda saat ini adalah Ujian Nasional yang penuh dengan tekanan, atau anda yang sudah bekerja, “cawan” di sini dapat diartikan sebagai pilihan sulit dalam bisnis.
Dapatkah anda menghindarinya?
Bisa saja jika anda mau, tapi apakah itu yang Allah kehendaki?

Terima dan hadapi permasalahan hidup anda, jika dirasa sulit, bukankah Allah berjanji akan tetap menggendong anda? (lihat Yesaya 46 : 4)

Teruslah berjuang,
Selamat Berefleksi Diri di Hari Jumat Agung ini,

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, February 27, 2013

Sepenuh Hati


Lalu kata Yesus kepada mereka : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”Matius 22 : 21b


Pernahkah anda merasa hampir putus asa di dalam pekerjaan?
Bahkan, rasanya bos, atasan, atau teman sekerja semakin menyebalkan?
Menyudutkan, menyalahkan, dan seringnya menuntut anda?
Menuntut untuk begini, begitu.
Belum selesai tuntutan yang satu, ada lagi tuntutan yang lain.
Kepala anda hampir pecah?
Dan sudah bersiap dengan surat pengunduran diri? CV untuk perusahaan lain?

Dalam dunia pekerjaan (para pekerja), sekolah (para murid dan guru), rumah tangga (suami, istri, anak), konflik bisa saja terjadi.
Tunggu, jangan tutup halaman ini.

Coba anda kembali membaca ayat di atas.
Sepintas, dan seringkali saya membaca dan menelaahnya hanya sebagai pengingat agar saya tetap melayani di gereja NYA.
Tapi kemudian, ketika saya sudah di ujung rasa muak saya, merasakan apa yang saya tanyakan kepada anda di awal post ini, saya hanya ingin berbagi sedikit yang bisa saya bagikan.

Berikanlah kepada “Kaisar” apa yang wajib kamu berikan kepada “Kaisar”.
Artikan kata “Kaisar” (yang selalu saya artikan sebagai pemerintah dan pajak) sebagai bos, atasan, klien atau teman sekerja anda.
Lalu pikirkan apa yang sudah mereka berikan untuk anda?
Masih layakkah anda menuntut saat seharusnya mereka yang menuntut kewajiban anda?

picture from here


Bekerjalah dan lakukan segala pekerjaan anda dengansepenuh hati, berikan yang terbaik yang anda dapat berikan, seperti saat anda mencintai seseorang,
tapi jangan gunakan hati anda ketika bos mulai membentak-bentak, pekerjaan semakin banyak dan menumpuk, dll.
Pikirkan, karena memang itu yang sewajibnya anda berikan untuk mereka yang mempekerjakan anda.

Ingat, di luar sana ada banyak sarjana dan orang-orang pintar yang tak seberuntung anda.
Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, February 19, 2013

Complain? Should I?


“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”1 Korintus 10 : 13
 Dahulu, ayat tersebut di atas hanya sebuah ayat hafalan dalam kelompok tumbuh bersama saat saya remaja. Sewaktu itu, rasanya ayat itu tak berarti bagi saya yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Bagaimana tidak biasa, saat itu saya merasa hidup saya baik-baik saja, Tuhan memberikan banyak sekali berkat dan ‘kasih’Nya, lewat orang tua, lewat teman-teman, juga saudara. Sehingga kata ‘pencobaan’ saya anggap sebagai sesuatu yang tidak akan pernah saya temui dalam garis hidup saya.

Semuanya berubah, ketika papa mulai di vonis kanker dan hanya memiliki harapan hidup kurang dari setahun. Waktu itu, saya sadar bahwa ‘pencobaan’ itu pasti ada dan selalu ada di dalam kehidupan.
‘Pencobaan’ masih terus berlanjut ketika saat itu mama mengalami kecelakaan dan harus operasi sebanyak dua kali karena tulang bahu kanannya remuk. Kecelakaan di saat harapan hidup untuk papa rasanya mustahil.

Menanggungnya? Oh, berat dan saya juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa saya bekerja di tempat yang salah, yang tak semestinya hingga akhirnya Tuhan memanggil papa. Saya menata hidup saya kembali. Sulit? Pasti!

Protes saya kepada Tuhan berhenti ketika saya pindah tempat kerja (di sekolah) dan di situ saya menata hati yang hancur karena ditinggal papa. Karir saya amat baik, saya dipercaya memegang sebuah kelas yang ‘penting’, bekerja sama dengan partner yang banyak memberi pelajaran tentang bagaimana menjadi guru yang baik. Sangat baik ketika lagi-lagi Tuhan memberi ‘pencobaan’ yang lain.

Tanggal 27 Agustus 2012, saya mengalami kecelakaan. Kecelakaan ringan kalau dilihat dari kacamata orang biasa, tapi kecelakaan fatal bagi saya dan nasib karir saya. Saya harus menerima kenyataan bahwa otot ligament saya sobek dan tak akan kembali seperti semula, saya tak akan dapat berlari, lompat, dan kegiatan kegiatan lain yang membutuhkan kelincahan. “Tidak bisa dan tidak boleh”, itu kata dokter.

Protes? Saya mau protes apa lagi sama Tuhan? Protes bahwa hidup saya menyedihkan?
Pada awalnya ya, saya akui saya protes, bohong kalau saya bilang saya tak protes. Tapi kemudian saya sadar, mungkin ada ‘maksud Tuhan’ di balik ini semua, sesuatu yang belum saya mengerti mengapa dan apa.
Segera, saya pasti akan mengetahui ‘maksud Tuhan’ di balik proses yang berat ini.

picture from here
Bukankah sebuah batu bata yang kokoh terbuat dari tanah yang sebelumnya diinjak-injak dan dpanaskan terlebih dulu?
Juga berlian mahal, bukankah harus diasah supaya kilaunya terlihat?
Jadi haruskah saya protes?
Saya rasa tidak, pun anda dengan masalah anda.

Wednesday, February 6, 2013

Knock...


"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."
Matius 7 : 7

picture from here


Musim panas di sebuah desa.
Ada dua orang petani,
Dua duanya sama memiliki sawah,
Dua duanya sama berdoa minta hujan kepada Tuhan,
agar sawahnya terairi dan tidak kering.
Yang satu, tidak melakukan apa-apa selain berdoa
Yang satu, berdoa, tapi juga membajak sawah, dan mengusahakannya.
Yang mana yang doanya akan di kabulkan Tuhan?
Yang berusaha, tentu saja

..di kembangkan dari cuplikan film “Facing The Giants”..

Ingat dan percaya bahwa tak ada doa yang tak di dengar.
Bisa saja jawabnya “Ya”, “Tidak”, “Nanti Dulu”.
Semuanya pun tergantung bagaimana kau mengusahakannya,
Berusaha untuk menjadi layak menerima jawab doa-doamu.